Kamis, 19 Januari 2012

Dini – Kahi


Dini – Kahi


Masa retro, retroisme, Bang Kribo naik onthel
Lewat bangjo abang ijo, dia jemput Mbakyu Sri yang menthel
Dua manusia muda-mudi ini, ketawa haha hihi
Alun-alun mini masih sepi, biar gitu onthel nggak bisa lari

Haha hihi haha hihi, mereka ketawa ketiwi
Ealah dalah, ternyata kampung sudah sepi
“ Sudah magrib, Mbak Sri. Sonde kena maki Pak Haji nanti?”
“ Ya sudah, Bang. Kita pulang. Tapi jangan lewat jalan remang-remang”

Era 80-an, delapanpuluhisme, Bang Kribo-Mbakyu Sri menikah
Sungkem diminta, sangu seadanya, merantaulah mereka
Sekarang domisili di Bukittingi, lahir anak estri, namanya Dini
Dini, tidak kemayu, suka ngguya-ngguyu, orangnya lucu

Awal 90-an, sembilanpuluhisme
Dini kesana kemari, cari satu institusi
Dini bertemu Kahi, Kahi anaknya Bu Nyai

Eh, tapi sayang sekali
Dini-Kahi kena arus hedoisasi
Baju bebas, gaul lepas, celana pas, bibir Mbakyu panas
“ Lupa kamu Nduk? Mbok ya tawaduk. Sini duduk. ”
Dini mingkem, mau sungkem, ibunya merem

Bang Kribo, Mbakyu Sri, Pak Haji, Bu Nyai
Cuma bisa geleng-geleng kepala
Lihat surat di atas meja
“ Bapak, Ibu. Dini – Kahi kawin lari.”





                                                                                                            Semarang, 11 Juni 2010

Tidak ada komentar:

Posting Komentar