JALAN TOL UNGARAN
– SEMARANG
ANTARA SOLUSI DAN
DILEMA, MENGAPA?
Bukan menjadi
rahasia lagi, proyek jalan tol Semarang –
Solo tepatnya seksi I Semarang-Ungaran, agaknya menuai berbagai
komentar miring akibat kondisi geografis yang beresiko longsor dan
ambles. Mungkin kita perlu berpikir dua kali dan berhati – hati
sebagai pengguna jalan tol saat melintas.
Tanah longsor
adalah fenomena
geologi
yang mencakup berbagai gerakan tanah, seperti rockfalls
, kegagalan mendalam lereng
dan dangkal puing
arus, yang dapat terjadi di lingkungan lepas pantai, pesisir dan
daratan.Meskipun gaya gravitasi
adalah kekuatan pendorong utama untuk tanah longsor terjadi, ada
faktor lain yang mempengaruhi asli stabilitas
lereng
. Biasanya, pra-kondisional faktor membangun spesifik sub-permukaan
kondisi yang membuat daerah / lereng rentan terhadap kegagalan,
sedangkan tanah longsor yang sebenarnya sering memerlukan pemicu
sebelum dibebaskan.
Seperti yang termuat
di harian Espos pada 24 April 2012, pakar hidrologi Universitas
Diponegoro (Undip) Semarang, Robert J Kodoatie, dan Sekretaris Pusat
Penelitian Lingkungan Hidup Undip, Dwi P Sasongko, memrediksi masih
akan terjadi keretakan dan ambles di jalan tol Semarang-Solo seksi I
Semarang-Ungaran. Menurut mereka, retak dan ambles terutama terjadi
di wilayah Susukan, Ungaran, Kabupaten Semarang dan Gedawang, Kota
Semarang. Itu mengapa jalan tol ini hanya boleh dilalui oleh
kendaraan kecil saja (sedan, pick up, jeep, minibus).
Struktur tanah di
wilayah Susukan kerekan atau tanah lempung sehingga bila kena air
hujan mudah meleleh dan jika musim kemarau retak. Sedang di wilayah
Gedawang tanahnya labil sehingga jika terkena air akan bergerak ke
bawah menyebabkan terjadinya longsor. Perbaikan yang dilakukan PT
Trans Marga Jateng (TMJ) selaku pihak pelaksana proyek pembangunan
jalan tol akan sia-sia karena nantinya akan kembali mengalami
kerusakan.
Mengenai langkah
antisipasi, sebaiknya menunggu hasil review analisa mengenai dampak
lingkungan (Amdal) jalan tol Semarang-Solo yang saat ini sedang
ditangani Komisi Amdal Badan Lingkungan Hidup Jateng. Usulan yang
selama ini diwacanakan adalah agar rute jalan tol Semarang-Ungaran
di wilayah Susukan dan Gedawang digeser, menghindari lokasi tanah
kerekan dan tanah labil. Tol Semarang-Ungaran tak harus dipindah,
cukup rutenya digeser tak melalui daerah yang tanahnya labil.
Kita sebagai
pengguna jalan tol sendiri patut waspada dan sangat berhati – hati
terhadap resiko jalan ambles di jalan tol Semarang – Ungaran ini.
Sebaiknya
jangan melalui jalan tol Semarang – Ungaran ketika hujan deras,
karena kondisi tersebut dapat meningkatkan kemungkinan amblesnya
jalan akibat pergerakan tanah. Lebih baik melalui jalan raya
Banyumanik – Ungaran yang lebih stabil. Selain itu, ada baiknya
untuk tidak membawa muatan melebihi batas angkut kendaraan. Dan yang
terakhir, jangan berkendara melebihi batas aman kecepatan berkendara,
terutama saat melewati jembatan tol ini.
Selamat berkendara
meika novarya
larasati - 2012
Tidak ada komentar:
Posting Komentar