Minggu, 01 Juli 2012


JALAN TOL UNGARAN – SEMARANG
ANTARA SOLUSI DAN DILEMA, MENGAPA?


Bukan menjadi rahasia lagi, proyek jalan tol Semarang – Solo tepatnya seksi I Semarang-Ungaran, agaknya menuai berbagai komentar miring akibat kondisi geografis yang beresiko longsor dan ambles. Mungkin kita perlu berpikir dua kali dan berhati – hati sebagai pengguna jalan tol saat melintas.
Tanah longsor adalah fenomena geologi yang mencakup berbagai gerakan tanah, seperti rockfalls , kegagalan mendalam lereng dan dangkal puing arus, yang dapat terjadi di lingkungan lepas pantai, pesisir dan daratan.Meskipun gaya gravitasi adalah kekuatan pendorong utama untuk tanah longsor terjadi, ada faktor lain yang mempengaruhi asli stabilitas lereng . Biasanya, pra-kondisional faktor membangun spesifik sub-permukaan kondisi yang membuat daerah / lereng rentan terhadap kegagalan, sedangkan tanah longsor yang sebenarnya sering memerlukan pemicu sebelum dibebaskan.
Seperti yang termuat di harian Espos pada 24 April 2012, pakar hidrologi Universitas Diponegoro (Undip) Semarang, Robert J Kodoatie, dan Sekretaris Pusat Penelitian Lingkungan Hidup Undip, Dwi P Sasongko, memrediksi masih akan terjadi keretakan dan ambles di jalan tol Semarang-Solo seksi I Semarang-Ungaran. Menurut mereka, retak dan ambles terutama terjadi di wilayah Susukan, Ungaran, Kabupaten Semarang dan Gedawang, Kota Semarang. Itu mengapa jalan tol ini hanya boleh dilalui oleh kendaraan kecil saja (sedan, pick up, jeep, minibus).
Struktur tanah di wilayah Susukan kerekan atau tanah lempung sehingga bila kena air hujan mudah meleleh dan jika musim kemarau retak. Sedang di wilayah Gedawang tanahnya labil sehingga jika terkena air akan bergerak ke bawah menyebabkan terjadinya longsor. Perbaikan yang dilakukan PT Trans Marga Jateng (TMJ) selaku pihak pelaksana proyek pembangunan jalan tol akan sia-sia karena nantinya akan kembali mengalami kerusakan.
Mengenai langkah antisipasi, sebaiknya menunggu hasil review analisa mengenai dampak lingkungan (Amdal) jalan tol Semarang-Solo yang saat ini sedang ditangani Komisi Amdal Badan Lingkungan Hidup Jateng. Usulan yang selama ini diwacanakan adalah agar rute jalan tol Semarang-Ungaran di wilayah Susukan dan Gedawang digeser, menghindari lokasi tanah kerekan dan tanah labil. Tol Semarang-Ungaran tak harus dipindah, cukup rutenya digeser tak melalui daerah yang tanahnya labil.
Kita sebagai pengguna jalan tol sendiri patut waspada dan sangat berhati – hati terhadap resiko jalan ambles di jalan tol Semarang – Ungaran ini. Sebaiknya jangan melalui jalan tol Semarang – Ungaran ketika hujan deras, karena kondisi tersebut dapat meningkatkan kemungkinan amblesnya jalan akibat pergerakan tanah. Lebih baik melalui jalan raya Banyumanik – Ungaran yang lebih stabil. Selain itu, ada baiknya untuk tidak membawa muatan melebihi batas angkut kendaraan. Dan yang terakhir, jangan berkendara melebihi batas aman kecepatan berkendara, terutama saat melewati jembatan tol ini.
Selamat berkendara


meika novarya larasati - 2012

Tidak ada komentar:

Posting Komentar